RSS

Pulang

Magrib memanggilku pulang,
gerimis mulai berjatuhan
membasahi rumput-rumput ilalang

Pulang kedalam hatimu
sekali lagi agar kita melebur
menjadi jiwa yang satu

Anak-anak alam bernyanyi
matahari bersembunyi
dan aku ingin pulang

Pulang ke atas pangkuan,
sekali lagi bertukar cerita
tentang semua perjalanan
atau cukup diam saja
menikmati detik-detik
yang merambat pelan di jendela

Rinduku adalah jembatan panjang,
menuju cintamu
Yang terbaring dalam ingatan.

Nitikan, 2016.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 6, 2016 in Poems

 

Semesta Satu

Putri,
Datanglah kemari
Satu ruang kecil yang sanggup menyembunyikan matahari
Andai aku membentangkanya
Tempatku menikmati sajak-sajak tentangmu
Dimana aku mengingatmu di segala waktu.

Di sini aku bagai udara, Putri.
Bebas berhembus dan menembus
Berbisik pada setiap materi yang kutemui;
“Aku sedang jatuh cinta…
Terlalu dalam…”

Kemarilah,
Kemarilah Putri,
Lengkapi semesta mungilku
Buat ia lebih berarti
Seperti rembulan pada langit malam
Layaknya barisan huruf dalam jalinan kata-kata.

Putri,
Apakah kau izinkan aku genggam jemarimu?
Untuk kuajak berjalan berdampingan,
Melintasi orbit kehidupan.

Pekalongan, 07-08-2012.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 9, 2016 in Poems

 

Me, Myself

Aku adalah khayalan-khayalan,
adalah fikiran-fikiran,
adalah keputusan-keputusan,
adalah mozaik ingatan,
adalah nurani.

Adalah dusta,
adalah angkara,
adalah dendam,
adalah cemburu,
adalah nafsu,
adalah iri adalah dengki,
adalah segala yang menggerogoti hati.

Adalah perbaikan-perbaikan,
adalah pemaafan-pemaafan,
adalah perkataan baik,
adalah keikhlasan,
sampai esok menjadi cahaya.

Gunungpring, 07052016.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 9, 2016 in Poems

 

A day with you

Hampir sebulan setelah kau pergi. Entah sudah berapa kali aku memimpikanmu. ‘Sering’ adalah kata yang tepat untuk menjawabnya. Hari ini Kita bertemu (lagi) dalam mimpi. Mimpi terjelas dan terbahagia dalam hidup yang pernah kuingat. Sepertinya.

Scene pertama aku melihatmu terbaring di kamar 11A, kamar pesantren kita dulu, dalam keadaan mati entah sudah berapa hari. Kau hanya memakai celana pendek, tanpa baju atas. Tubuhmu tidak berbau. Aku memandangmu, jelas sekali wajah tenang itu dalam ingatanku. Lalu sesuatu terjadi pada tubuhmu. Awalnya kukira tubuhmu bergerak lagi, aku sudah senang. Lalu aku mendekat untuk melihat lebih jelas, ternyata bukan. Setelah kuamati lagi, yang membuat tubuhmu seolah bergerak adl luka diatas perutmu pasca operasi mengeluarkan sedikit asap sebab terkena panas cahaya matahari. Seperti menguap. Aneh ya? Emang.

Sesuatu terjadi lagi, kali ini aku yakin tubuhmu benar2 bergerak perlahan. Lalu  matamu mulai terbuka. Entah bagaimana lukamu tiba-tiba sudah kering. Kau duduk bersandar tembok kamar. Darah yg sudah berhenti perlahan mengalir lagi dalam tubuhmu. Rona kulitmu kembali. Senyumku seketika mengembang. Aku senang.bahagia.sangat. Hal paling bahagia justru aku rasakan dalam mimpi. Aku menghambur kepadamu. Kudekap tubuhmu yang baru saja hidup lagi. Aku menangis. Deras. Kau malah tertawa memperlihatkan gigi gingsulmu. Kuciumi pipimu. Kiri dan kanan. Sekali lagi aku bahagia, sangat bahagia, namun tetap saja aku menangis. Seseorang pernah berkata “bersikaplah realistis, tapi tetap berharap terjadi keajaiban”. Aku mengalaminya.

Scene kedua kita berdua berjalan bersama melewati lapangan pesantren lalu masuk ke lorong-lorongnya. Aku mengobrol banyak denganmu. Obrolan sepeeti biasanya. Obrolan aneh yang lebih pantas dibicarakan antara dua teman sebaya, bukan sepasang paklik dan ponakan. kadang lucu dan terkesan kurangajar. Entah bagaimana tiba-tiba kita mengobrol tentang motor. Aku bercerita padamu kalau aku baru saja dapat gadaian motor matic yg sangat nyaman dipakai. Kau bilang sebelum mati waktu itu, kau juga hampir medapat motor gadaian, Satria Fu. Kau bertanya apakah motor itu masih ada atau tidak. Kita terus berjalan. Aku mengingatkanmu untuk meminum air putih karena pasti tubuhmu butuh itu. Dan aku bilang kepadamu sekarang kau bisa menjalani hidup tanpa penyakit yang sudah kau punya sejak kecil. Kau tak akan takut lagi minum air putih banyak-banyak. (aku lupa kita bercakap apa saja disini, ah kenapa short term memori secepat ini hilang).

Scene ketiga kita sampai di tempat wudhu pesantren, di sana kira bertemu orang lain, entah siapa aku tak kenal(tak ingat?). Dua orang perempuan. Mereka menyapaku. Entah basa basi atau bertanya. Aku lupa. Obrolan kita ditempat wudhu berkisar antara kau ingin pulang lama ke rumah. Kau bilang mungkin akan sampai setahun. Aku bilang aku juga ingin liburan lama, menghabiskan waktu di desa bersamamu. Lalu sambil menunjukan selembaran uang 2rb rupiah aku berkata, “skalian ae 2 tahun lek, ki aku biyen jek due utang koe, keno nggo urep setahun, koe yo nduwe 2 ribu to?”. Entah bagaimana di dunia mimpi uang 4 ribu bisa untuk membiayai hidup selama 2 tahun. Lalu kita debat ringan tentang apakah uang itu harus kukembalikan atau tidak, karena waktu kuceritakan utangku padamu ke makde, makde bilang setelah kematianmu “ora usah”. Kita berdebat, kecil, tertawa bersama.

Scene ketiga kita berjalan pulang. Bagian pertama yg terlihat adalah jembatan di gang rumahmu. Entah bagaimana dalam mimpi kita bisa berpindah tempat sebegitu jauh tanpa sadar akan keanehannya. Sepertinya seolah itu hal wajar dan biasa saja. Kita membicarakan mengenai hutang hutang orang lain padamu.
Kita berjalan melewati konter hape, ada lek ulmanan disana, dia tersenyum melihatmu. Berjalan lagi, melewati rumah wo basir, ada muka lilik disana, dia tertawa sumringah, mengobrol singkat bersamamu dari dalam rumah, bilang betapa bahagianya dia meligatmu hidup. Lalu kita berjalan lagi dan sampai di depan rumahmu. Kau pulang. Wajah pertama yg kulihat di ruang tamu adl wajah lek jamal, lek unul, khirzi, javeed, dan entah siapa lagi(anak kecil). Mereka semua sednag bermain. Sepertinya kabar mengenai kebangkitanmu sudah tersebar di rumah. Setelah aku masuk rumah, aku menengok kebelakang melihatmu sedang bercakap dengan pakde, Ayahmu, di depan. Pakde duduk disamping pintu, sedang kamu berdiri dihadapannya. Entah apa yg kalian obrolkan. Aku tak mendengar.

Jam 8.30 pagi, aku terbangun, dengan senyum, dan tangis.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 3, 2016 in Uncategorized

 

Self Rehabilitation

Hari ini, 23 februari 2016. 5 hari sejak program self rehabilitation aku jalankan. Lho koe ki loro tho? Iya, sakit jiwa. Entah sejak kapan, aku mulai jarang bersosial dan bertemu orang-orang baru, aku lebih sering berdiam di kamar. Buaanyak sekali kemungkinan2 dan kesempatan2 yang kusia-siakan. Kalau berdiam di kamar sambil melakukan hal produktif sih engga apa-apa. Lha ini masalahnya aku cuman main playstation sama nglakuin hal-hal ngga jelas, pol cuman nonton film. Kan bisa ajur hidup aing kalo gini terus. Nyesel aku. Hiks. Padahal, begitu banyak hidup orang berubah lantaran sebuah pertemuan. Disebabkan hal itu, umat Islam disarankan melihat banyak tempat dan bertemu dengan banyak orang supaya nasibnya berubah.

Akibat dari proses rehabilitasi diri tadi, aku mulai melirik buku-bukuku yang ada di rak. Kebanyakan novel. Kasian mereka, ngga pernah dibaca sampek sawangen. Dari sekian novel, Aku ngambil novel Inferno, karya Robert Langdon. Eh, udu dink, karyane Om Dan Brown. Langdon tu nama tokoh utamanya. Sebenernya aku udah lama punya buku ini, sekitar 2 tahunan yang lalu. Kenapa baru dibaca sekarang? soalnya takut mewek. Hehehehe. Bukan mewek karena isi cerita dalam bukunya yang dramatis dan bikin nangis kayak film bollywood, bukan itu. Melainkan karena ada kenangan yang aku ngga bisa lupa bersama seseorang ketika dulu aku baca Angels and Demons. Sejak itu, tiap kali megang bukunya Dan Brown, apapun judulnya, aku galau. Lha sekarang gimana kok sampe berani baca? Udah ngga galau? Ya tetep galau. Hahaha afu tenan kok.

Dari mulai halaman pertama kubuka, ingatan-ingatanku tentang-sebut saja-mawar mewujud perlahan.. bagai gelembung–gelembung yang muncul ke permukaan dari kegelapan sumur tak berdasar. Mulai dari sms pertamaku untuknya waktu bertanya kenapa dia ngga masuk kelas, saat masih sering telponan trus ngga kedengeran suaranya gara-gara ada kereta api lewat, puisi-puisiku, sampai saat aku ke rumahnya dan mendapati dia duduk di ruang tamu dengan kaos oblong, rok kain panjang, dan kerudung yang hanya dipasang sekenanya yang membuat jantungku berdegup cepat. Cantik sekali dia waktu itu, sangat cantik. Aku berkata dalam hati, “Tuhan pasti sedang ingin pamer…”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 23, 2016 in Uncategorized

 

Antara Aku Dan Engkau

Bersama langit malam ini
Setelah menikmati senja yang tak sempurna
Kita duduk berdua, berdampingan,.
Bercerita tentang masa-masa yang tlah terlewati
Sebelum kita saling mengerti
Antara aku dan engkau

Deburan ombak bernyanyi dalam sunyi
Desau angin pantai berbisik dalam diam
Melengkapi bait-bait percakapan kita
Menjadi jeda pada setiap akhir cerita

Masih aku tak percaya kau di dekatku
Menghangatkan hati dan jiwa
Menggenggam jemariku yang kedinginan
Dan entah apapun itu
Sekarang kurasakan beda
Kuharap, engkaupun begitu

Setelah memandangi gemintang yang berserakan
Kita pulang,
Dengan baumu yang tertinggal pada tubuhku.
Parangtritis, Meninggalkan kenangan dan melahirkan harapan-harapan
Tentang masa yang akan datang
Antara kita,
Antara engkau dan aku.

Yogyakarta, 1 Oktober 2013.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 8, 2015 in Poems

 

Mini Story

# Hal pertama yang kuingat tentang ayahku saat aku masih kecil adalah – Aku sedang duduk di pangkuannya sambil nonton televisi, lalu aku bertanya “Pak, kapan aku sekolah tk?”. Aku tak ingat apakah ayah menjawab pertanyaanku atau tidak. Saat itu usiaku mungkin sekitar 4 atau 5 tahun. Entahlah.

————————————————————————————————————–

# Dulu, saat aku kecil-belum masuk tk- aku sangat suka sekali memegang gunting untuk merusak busa yang ada pada kursi-kursi di rumahku-my mother told this. Bahkan bukan cuma busa, radio, kaca, kain, sapu, semua yang bisa kujangkau, ku rusak. Haha. Pernah suatu kali aku memotong kabel listrik menggunakan gunting (aku ngguyu pas nulis iki), dan kesetrum… Lalu ibuku datang dan langsung memukul tanganku dengan gagang sapu supaya terlepas dari kabel telanjang yang penuh aliran listrik.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 23, 2014 in Uncategorized